Perkembangan Tasyri' Masa Khulafaur Rasyidun

Kamis, 21 Mei 2009
Abu Bakar ash-Shiddiq
Abu Bakar ash-Shiddiq khalifah Rasulullah, ia bernama Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi, at-Tamimi. Beliau tumbuh dan besar di Makkah dan tidak pernah keluar dari Makkah kecuali untuk tujuan dagang dan bisnis. Beliau memiliki harta kekayaan yang sangat banyak dan kepribadiannya sangat menarik, memiliki kebaikan yang sangat banyak, dan sering melakukan perbuatan-perbuatan terpuji.
An-Nawawi berkata: beliau termasuk tokoh Quraisy di masa Jahiliyah, orang yang selalu diminta nasehat dan pertimbangannya, sangat dicintai di kalangan mereka, sangat tahu kode etik yang ada di kalangan mereka. Tatkala Islam datang, beliau mengedepankan Islam atas yang lain, dan beliau masuk Islam dengan sempurna. Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari seluruh sahabat maupun yang lain. Namun disini adapula yang menyatakan bahwa Abu Bakar orang pertama masuk Islam adalah merupakan ijma’. Beliaulah dari kalangan laki-laki dewasa yang pertama masuk Islam, dan keislamannya pun bersih. Dasarnya ialah kepercayaannya yang dalam dan keimanannya yang bersih dari segala noda. Beliau sudah puas sepenuhnya atas segala apa yang dikatakan Nabi SAW kepadanya, dan Nabi pun mengutamakannya dalam mendampinginya di segala tempat. Juga pengorbanannya yang diperlukan oleh Nabi dan oleh kaum Muslimin setiap ada peristiwa penting.
Selama masa hidup Nabi, Abu Bakar sebagai laki-laki Muslim, tidak memperlihatkan sesuatu bawaan yang khas. Beliau sangat setia kepada Rasulullah SAW seperti sahabat-sahabat yang lain. Beliau tidak memperlihatkan ciri-cirinya sendiri pada masa hidup Rasulullah SAW, serta kemurahan hatinya, baik mengenai dirinya maupun hartanya dan kecintaanya kepada Nabi, begitu juga kepada kaum Muslimin. Di mata kaum Muslimin beliau sangat dicintai dan dihormati. Mereka pun melihat Nabi mendahulukannya dari pada yang lain, maka mereka juga lebih mendahulukan Abu Bakar daripada diri mereka sendiri. Akan tetapi, selesai pelantikannya sebagai khalifah ternyata beliau melihat ada masalah amat besar yang mengelilinginya, yang takkan mampu beliau pikul tanpa pertolongan Allah dan bantuan kaum Muslimin, terutama kalangan elitenya dari kalangan sahabat Rasulullah. Beliau sangat prihatin kalau kaum Muslimin masih akan mengaharapkan dari beliau atau akan memaksanya berlaku seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Lalu diumumkannya kepada mereka bahwa beliau tidak mampu melakukan itu. Dimintanya kepada mereka untuk tidak mengharapkan terlalu banyak dari beliau. Waktu itu ketika Abu Bakar dibaiat secara umum di Saqifah, beliau berdiri dan memuji Allah dan menyatakan syukurnya. Kemudian beliau berkata;
“Amma Ba’du. Wahai manusia! Sesungguhnya saya telah dipilih unutk memimpin kalian dan bukanlah saya orang terbaik di antara kalian. Maka, jika saya melakukan hal yang baik, bantulah saya. Dan jika saya melakukan tindakan yang menyeleweng luruskanlah saya. Sebab kebenaran itu adalah amanah, sedngkan kebohongan itu adalah penghinatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat dalam pandangan saya hingga saya ambilkan hak-haknya untuknya, sedangkan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di hadapanku hingga saya ambil hak orang lain darinya, insya Allah. Dan tidak ada satu kaum pun yang meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali akan Allah timpakan kehinaan kepadanya. Dan tidak pula menyebar kemaksiatan kepada satu kaum kecuali akan Allah timpakan kepada mereka petaka. Taatlah kalian kepadaku selam saya taat kepada Allah dan jika saya melakukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku. Bangunlah untuk melakukan sholat, rahimakumullah.”
Ketika menyampaikan hal tersebut kepada kaum Muslimin, juga dalam hidupnya kemudian, kata-kata itu sangat berkesan dalam hati Abu Bakar. Beliau berusaha sekuat tenaga, akan mengerjakan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan beliau berusaha hendak meninggalkan apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah.
Jelas bahwa begitu rendah hati dan bijaksannya beliau dalam mengambil langkah yang akan dijalani dalam memangku jabatan sebagai khalifah. Sudah barang tentu ketika kaum Muslimin membaiatnya sebagai pengganti Rasulullah yang tidak lain karena beliau adalah sahabat Rasulullah yang paling disayangi-Nya, pun juga Abu Bakar pernah ditunjuk oleh Rasulullah ketika beliau sedang sakit keras untuk menjadi Imam sholat.
Kaca mata sosiologis dan politik yang berkembang pada saat itu ialah ketika suasana genting menyelmuti kota Arab, yang pada saat itu terjadi peristiwa yang menggemparkan dunia, dengan berpulangnya pemimpin umat Islam di segala penjuru Dunia. Khususnya dimana ketika Rasulullah memimpin pemerintahan di sana. Banyak permasalahan-permasalahan yang dihadapi kaum muslimin saat itu. Dari golongan Anshar cemas sekali apabila yang akan menjadi pengganti Rasulullah adalah kaum Muhajirin yang dari Quraisy dan akan dilembagakan menjadi monopoli Quraisy. Sahabat-sahabat Nabi, orang-orang yang shaleh itu bila tidak ada lagi, mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan pihak Quraisy terhadap hak kaum Anshar. Mereka akan diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang. Sehingga hal tersebut di atas dapat kita tarik benang merah, bahwa kaum Anshar yang notabene adalah penduduk asli Madinah tidak mau apabila pemerintahan selanjutnya jatuh pada kaum Muhajirin yang mereka bukan penduduk asli Madinah, sehingga apa yang dikhawatirkan oleh kaum Anshar apabila kaum Muhajirin yang menjadi khalifah selanjutnya maka kaum muhajirin secara leluasa memainkan monopoli pemerintahannya dan kaum Anshar tidak mendapat keadilan sebagaimana mestinya, sehingga mereka berkumpul di Saqifa Banu Sa’ida untuk bermusyawarah agar kepemimpinan selanjutnya dipimpin oleh dua kaum yakni kaum Anshar dan Muhajirin.
Namun di sisi lain ketika kita melihat apabila dalam suatu pemerintahan yang di sana dipimpin oleh dua golongan, maka tidak akan mungkin roda pemerintahan tersebut akan berjalan dengan baik. Hal itu bisa kita ibaratkan seperti seutas tali yang akan kita ikatkan kepada dua ekor unta, jelas itu tidak mungkin. Karena di dalam pemerintahan hanya butuh satu orang yang memimpin roda pemerintahan tersebut, yang memimpin masyarakat untuk menuju perubahan yang lebih baik.
Adanya perebutan kekuasaan dikala itu tidak lain hanya karena demi menyelamatkan agama Allah, bukan semata-mata karena hubbud dunya kaum Muslimin waktu itu. Mereka melihat bagaimana Islam ke depan, sehingga perlu adanya penunjukan khilafah selanjutnya untuk memimpin umat Islam di muka Bumi.
Aplikasi yang seharusnya kita tiru dari uraian di atas adalah bahwa pemimpin-pemimpin kita saat ini harus mengaca dari Tarikh-tarikh perjalanan pemerintahan yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Bakar tatkala beliau dibaiat secara umum oleh kaum Muslimin, bahwa: “Kebenaran itu adalah amanh, sedangkan kebohongan tiu adlah suatu penghianatan.” Kita bisa mundur satu langkah untuk maju beribu-ribu langkah ke depan.
Abul Qasim al-Baghawi meriwayatkan dari Maimun bin Mahran, dia berkata: Jika ada orang yang mengajukan perkara kepada Abu Bakar, maka beliau akan melihat hukumnya di dalam Kitab Allah. Jika beliau dapatkan hukumnya di dalam Kitab Allah maka dia akan memutuskan hukumnya seuai dengan apa yang ada di dalam al-Qur’an itu. Jika beliau tidak dapatkan dalam Kitab Allah dan beliau tahu bahwa itu ada di dalam hadits Rasulullah, maka beliau akan memutuskan sesuai dengan hadits Rasulullah. Jika tidak beliau dapatkan dalam Kitab Allah dan sunnah Rasulullah, maka beliau akan bertanya kepada kaum Muslimin dan berkata: Ada seseorang yang datang kepada saya dan dia menanyakan demikian dan demikian. Adakah salah seorang di antara kalian yang mengetahui bahwa Rasulullah pernah memutuskan perkara ini? Dan jika tidak mampu mendapatkan apa yang diriwayatkan dari Rasulullah, beliau akan mengupulkan orang-orang terkenal dan bermusyawarah dengan mereka. Jika mereka sepakat pada satu kesimpulan, dia akan memutuskan dengan apa yang mereka sepakati

Masa Umar Bin Khattab
1. Biografinya
Beliau bernama Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Rabah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luay. Beliau masuk islam pada tahun keenam kenabian, saat itu berusia 27 tahun sebagaimana ditulis oleh Imam adz-Dzahabi.
Imam an-Nawawi berkata: Umar lahir pada tahun ketiga belas setelah peristiwa tahun gajah. Beliau termasuk orang yang paling mulia dikalangan kaum Quraisy. Masalah-malasah diplomasi pada zaman jahiliyah diserahkan kepada Umar. Jika diantara kabilah terjadi peperangan maka Umar akan diutus sebagai penengahnya.
Dan sebelum beliau masuk islam, beliau adalah seorang musuh dari islam yaitu beliau menyiksa orang-orang yang masuk islam agar supaya mereka kembali kepada agama masyarakat mereka.
Sejak muda Umar sudah memikirkan nasib masyarakatnya dan usaha apa yang akan dapat memperbaiki keadaan mereka. Ini juga kemudian yang membuatnya bangga, bersikeras dan menjadi fanatik dengan pendapatnya sendiri tenyang tujuan yang ingin dicapainya itu. Beliau tidak mau dibantah atau diajak berdebat. Karena sikap keras dan ketegarannya itu sehingga dengan fanatiknya beliau begitu sewenang-wenang. Umar akan mempertahankan pendapatnya dengan tangan besi dan dengan ketajaman lidahnya. Tetapi yang demikian ini bukan tidak mungkin akan mengubah pendapat orang lain yang dihadapinya untuk menjadi bukti kuat dlam pembelaannya dan untuk mematahkan alasan lawan. Hal inilah awal dari pembentukan pola pemikiran Umar bin Khattab..
2. Ijtihad Umar
Adapun contoh dari ijtihad yang dilakukan oleh Umar bin Khattab salah satunya adalah sebagai berikut:
Tentang orang-orang yang menolak membayar zakat
Sesudah kabilah-kabilah yang di dekat Madinah menolak menunaikan zakat dan Abu Bakar bertekad akan memerangi mereka, namun sebelumnya Abu Bakar meminta pendapat dari sahabat-sahabat yang lain. Tetapi sebagian dari mereka menentang yaitu diantaranya Umar bin Khattab. Mereka berpendapat, jangan memerangi orang yang sudah beriman kepada Allah dan sudah percaya kepada Rosulullah, dan lebih bail meminta bantuan mereka dalam memerangi musuh. Ketika Umar berkata: “Bagaimana kita akan memerangi orang yang kata Rosulullah: “Aku diperintah memerangi orang sampai mereka berkata: tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul-Nya. Barang siapa berkata demikian, darah dan hartanya terjamin, kecuali dengan alas an. Abu Bakar berkata: “Demi Allah, aku kan memerengi siapa saja yang memisahkan shalat dengan zakat. Zakat adalah kewajiban harta. Dan kata Umar kemudian: “Sungguh, apa yang kusaksikan ternyata Allah memang telah melapangkan dada Abu Bakar dalam menghadapi perang, maka aku tahu bahwa dia benar”.
Tentang pengumpulan Al-Qur’an
Ketika terjadi ekspedisi Yamamah dan dari mereka yang hafal Al-Qur’an banyak yang mati syahid, Umar bin Khattab datang menemui abu Bakar yang sedang berada di masjid, dan Umar berkata: “Pembunuhan yang terjadi dalam perang Yamamah sudah makin memuncak, saya khawatir di tempat-tempat lain akan bertambah pula, sehingga semakin banyak para penghafal Al-Qur’an yang akan terbunuh dan Al-Qur’an akan semakin hilang, saya mengusulkan agar Al-Qur’an itu dihimpun”. Usul yang dirasakan oleh Abu Bakar sangat tiba-tiba itu dijawab dengan pertanyaan: “Bagaimana saya akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rosulullah SAW?” maka terjadilah dialog panjang antar kedua sahabat tersebut yang membuat Abu Bakar kemudian puas dan menerima pendapat Umar seraya memanggil Zaid bin Tsabit lalu menyampaikan usul Umar bin Khattab tentang pengumpulan Al-Qur’an. Selanjutnya mengatakan kepada Zaid: “Anda masih muda, cerdas dan kami tidak meragukan Anda, Anda penulis wahyu untuk Rosulullah SAW sekarang lacaklah Al-Qur’an itu dan kumpulkan”. Zaid berkata: “Bagaimana anda berdua melakukan itu, yang tidak dilakukan oleh Rosulullah SAW?” maka Abu Bakar menjelaskan bagaimana alasan-alasan yang disampaikan Umar kepdanya, seraya Zaid berkata: Kemudian Allah membukakan hati saya seperti terhadap Abu Bakar dan Umar, kemudian Zaid meninggalkan tempat itu dan mengumpulakan dan menghimpun Al-Qur’an dari lempengang-lempengan, dari tulang-tulang bahu, kepingan-kepingan pelepah pohon kurma dan dari hafalan orang.
Umar melarang pemberian kepada mualaf
Ada sekelompok masyarakat Arab yang sudah menyatakan masuk Islam. Mereka itu pemuka-pemuka msyarakat, maka Allah memberi bagian sedekah kepada mereka, dan Nabi menganjurkan agar memberikan bagian mereka untuk menyejukkan hati mereka dan memperkuat keimanan mereka. Firman Allah tentang ini adalah:
Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya……. (Q.S. al-Taubah: 60)
Rosulullah memberikan sebagian harta rampasan perang zakat kepada mereka, seperti Abu Sufyan, Aqra’ bin Habis, Abbas bin Mirdas, Safwan bin Umayyah dan Uyainah bin Hisn. Setiap orang diberi seratus ekor unta.
Sesudah Abu Bakar menjadi Khalifah pemberian demikian sama seperti yang diberikan oleh Rosulullah. Ketika Uyainah bin Hisn dan Aqra’ bin Habis datang meminta tanah oleh Abu Bakar mereka diberi surat untuk itu. Sesudah kemudian Umar menjadi Khalifah kedua orang itu datang menemuinya untuk mendapat haknya. Tetapi Umar merobek surat itu dengan mengatakan: “Allah sudah memperkuat Islam dan tidak memerlukan kalian. Kalian tetap dalam Islam atau hanya pedang yang ada. “Golongan ini hanya dulu pernah mendapat zakat, sekarang dihentikan, dan mereka disamakan dengan kaum Muslimin yang lain.
Ini termasuk ijtihad Umar dalam menerapkan salah satu nas Al-Qur’an itu. Sudah tentu ini adalah ijtihad yang positif. Ketentuan yang tercantum dalam Al-Qur’an untuk sebagian orang Arab ini saat Islam merasa perlu menyejukkan hati mereka. Sesudah Islam menjadi kuat yang demikian ini sudah tidak diperlukan lagi untuk disejukkan hatinya.
Talak tiga dengan sekali ucapan
Ada Ijtihad Umar mengenai nas Al-Qur’an yang berbeda dengan kita sekarang, yaitu mengenai Firman Allah:
Artinya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik……” (Q.S. al-Baqorah: 229)
Dan dilanjutkan ayat berikutnya:
Artinya: ”Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain….” (Q.S. al-Baqarah: 230)
Jelas bahwa yang ada pada kedua ayat ini yaitu jika terjadi talak dua kali maka suami masih bisa rujuk dengan istrinya, dan ketika sudah tigakali maka tidak boleh rujuk kecuali ad laki-laki lain yang menikahi perempuan tersebut. Hikmah dari diberlakukannya ini adalah perceraian atau talak berarti berakhirnya kehidupan suami-istri yang akan berakibat fatal pada anak-anaknya. Oleh karena itu al-Qur’an memperbolehkan pihak suami kembali rujuk dengan istrinya sesudah talak pertama dan kedua. Diisyaratkan bahwa talak itu harus didahului dengan perukunan kembalu antara suami-istri, hal ini seperti firman Allah SWT:
Artinya: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam (penengah) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S. an-Nisa’: 35)
Jika jalan keluar itu sudah tidak mungkin dan terjadi perpisahan dengan talak masih dapat dilakukan rujuk dua kali. Supaya setelah itu pihak suami-istri tidak menganggap remeh retaknya tali perkawinan, al-Qur’an mengatur dengan tidak membenarkan seorang suami kembali rujuk kepada istrinya setelah talak yang ketiga sebelum bekas istrinya itu dinikahi oleh laki-laki lain. Inilah yang berlaku spada masa Rosululllah SAW dan Abu Bakar.
Hal ini berbeda dengan pendapat Umar bin Khattab yaitu jatuhnya talak tiga itu satu kali. Umar bin Khattab berkata: “Orang tergesa-gesa dalam masalah yang seharusnya harus berhati-hati. Seharunya ini kita berlakukan kepada mereka. Maka diberlakukannya itu kepada mereka”.
Bagaimana Umar berpendapat begitu dan memberlakukannya kepada umat muslim pada masa itu, padahal itu bertentangan dengan arti harfiyah nas hikmahnya? Untuk dapat memahami ini kita harus mengacu pada sebab diturunkannya ayat ini: “Bercerai diperbolehkan hanya dua kali; maka tahanlah dengan cara yang pantas, atau lepaskan dengan cara yang baik….” Ibn Jarir menceritakan dalam tafsirnya bahwa apa yang dikatakan oleh sebagian mereka bahwa “Ayat ini turun karena orang-orang jahiliyah dan orang-orang islam sebelum turunnya ayat ini, mereka menceraikan istrinya tanpa batas yang menerangkan berakhirnya kembali rujuk dengan istri itu dalam masa iddahnya. Untuk itu Allah menyebutkan batas yang mengharamkan berakhirnya talak yang sudah tidak boleh untuk rujuk lagi sebelum mantan istrinya itu dinikahi oleh laki-laki lain. Dan hikmah dari diperbolehkannya rujuk itu hanyalah untuk introspeksi antara kedua suami-istri yang melakukan perceraian tersebut, ketika rujuk itu hanya untuk berniat merugikan istrinya maka itu tidak diperbolehkan karena hikmah dari rujuk tersebut tidak akan ada artinya lagi.
Banyak orang yang menceraikan istrinya pada masa Umar itu tak kenal rasa kasihan sesudah mereka diceraikan. Bekas tawanan-tawanan perang Irak dan Syam begitu banyak dan menggoda penduduk Madinah dan Semenanjung. Mereka yang tergoda lalu cepat-cepat menceraikan istrinya secara berlebihan karena hendak memperturutkan nafsu mereka. Mereka mengatakan talak tiga dengan sekali ucapan sehingga perempuan-perempuan bekas tawanan itu yakin bahwa dia adalah satu-satunya orang dalam hati laki-laki tersebut. Dan juga ada sebab-sebab lain yang mendorong sekelompok Muslimin pada masa permulaan itu dengan mempermainkan talak tiga secara sewenang-wenang dan sangat menyakiti. Dengan demikian laki-laki dapat kawin lagi dengan perempuan lain, Arab atau non-Arab, dengan syarat agar ia menceraikan istri pertamanya dengan talak tiga dan ia tak akan boleh rujuk lagi sebelum mantan istrinya itu di nikahi oleh laki-laki lain. Dan jika rujuk, maka rujuk ini akan menimbulkan gejolak dalam rumah tangga dengan akibat tidak akan membawa ketentraman hidup berumah tangga.
Sebab-sebab yang seperti inilah yang mendorong Umar mengeluarkan Fatwanya, dengan memberlakukan talak tiga dengan sekali ucapan. Beliau melihat jika orang sudah begitu meremehkan akad pernikahannya, lalu menggabungkan talak tiga menjadi satu, orang yang berbuat sewenang-wenang itu harus menaggung akibat dari perbuatannya itu. Dan itulah yang dikatakannya: “Orang tergesa-gesa dalam masalah yang seharusnya berhati-hati, seharusnya ini kita berlakukan kepada mereka”. Inilah ijtihad dengan menggunakan akal pikiran yang kemudian tidak sedikit ulama ahli fiqh yang menentang pendapat Umar ini.

Masa Utsman bin Affan
1. Biografinya
Beliau bernama Utsman bin Affan bin al-ash bin Umayah, bin Abdus Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib al-Quraisy al-Umawi al-Makki kemudian al-Madani, Abu Amr. Selain dikenal dengan Abu Amr beliau juga dipanggil Abu Abdullah dan Abu laila. Dia dilahirkan pada tahun ke enam tahun Gajah. Termasuk salah seorang yang pertama kali masuk Islam, menerima Islam di awal perjalanan dakwah Islam, orang yang pertama kali melakukan hijrah ke Ethiopia serta Madinah, dan salah seorang yang dapat jaminan surga dari Rasulullah. Beliau menikah dengan Ruqayah, putri Rasulullah. Utsman diberi gelar Dzun nurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua anak seorang Nabi. Ruqayah meninggal saat berlangsungnya perang badar. Inilah yang menyebabkan Utsman tidak ikut serta dalam perang badar karena harus merawat istrinya. Itupun setelah mendapat izin dari Rasulullah. Rasulullah memberikan bagian rampasan yang di dapat dari perang badar kepadanya, sebagaimana ia mendapat pahala seperti orang yang ikut perang badar. Dengan demikian dianggap sebagai Ahli Badar.Rasulullah kemudian menikahkan dengan putrinya yang lain yaitu Umi Kaltsum.
2. Kondisi politik dan sosial
Utsman dilantik menjadi khalifah tiga hari setelah disemayamkannya umar bin Khatab. Diriwayatkan bahwa orang-orang pada tiga hari itu mendatangi Abdur Rahman bin Auf meminta nasehat dan pendapatnya. Saat itu tidak ada seorangpun yang mengubah pendapatnya tentang utsman. Tatkala Abdurrahman duduk untuk membaiat Utsman, dia mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah. Dalam ucapannya saat itu dia berkata “ Sesungguhnya saya melihat manusia sama-sama menolak kecuali kepada Utsman”(Diriwayatkan oleh Ibnu Assakir dari al-Miswar bin Makhramah). Pada tahun 25 H, Utsman mencopot Sa’ad bin Abi Waqosh dari jabatannya sebagai gubernur dan menggantinya dengan Walid bin Uqbah bin Mu’ith. Dia adalah seorang sahabat, saudara sesusu Utsman. Pengangkatan inilah yang menjadi bencana untuknya. Karena dia dianggap mendahulukan kerabatnya dalam masalah jabatan. Diriwayatkan bahwa Walid pernah menjadi imam sholat subuh sebanyak empat rokaat sedangkan dia berada dalam keadaan mabuk. Kemudian dia menoleh kepada makmumnya seraya berkata: apakah rakaatnya harus saya tambah?
Pemerintahan Ustman berlangsung selama 12 tahun. Pada paroh terahir masa kekhalifahannya, muncul perasan tidak puas dan kecewa dikalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Ustman sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini mungkin karena umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tnahun) sifatnya yang lemah lembut. Ahirnya, pada tahun 35H/655M, Ustman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu. Salah satu factor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Ustman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting diantaranya adalah Marwan Ibnu Hakam. Dialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Ustman hanya menyandang gelar khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Ustman laksana boneka dihadapan kerabat itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan Negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh ustman sendiri. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pada masanya tidak ada kegiatan-kegiatan yang penting. Ustman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid, dan memperluas masjid nabi di Madinah. Setelah Ustman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.
Kesulitan besar dalam masa ini adalah penyelewengan agama (bid'ah) yang dituduhkan para sahabat terhadap Utsman. Di samping sebagai bid'ah, problema utamanya adalah mayoritas masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang agama, dan sementara itu, tidak pernah ada upaya serius untuk mengajarkan tuntunan-tuntunan agama kepada mereka secara benar. Berikut ini paparan sebagian dari penyelewengan agama yang telah diperangi oleh Amirul Mukminin as, Utsman:
Khalifah mengeluarkan hukum hanya berlandaskan pada "kemaslahatan", padahal di sana ada Al-Al-Qur’an dan sunah Nabi saw yang layak untuk dijadikan pegangan. Ungkapan Abu Ja'far Naqib termasuk salah satu ungkapan yang terang-terangan dari seorang penganut mazhab Ahlussunah yang netral dalam hal ini. Dia mennegaskan, "Sahabat Rasulullah saw secara serempak meninggalkan banyak dari nash-nash beliau saw, dan perlakuan ini disebabkan oleh maslahat menurut mereka dalam meninggalkan nash-nash Nabi tersebut, seperti berkenaan dengan saham keturunan Rasulullah saw (dzawil qurbâ) dan saham orang-orang muallaf (yang baru masuk Islam dan masih perlu dikasihani untuk memperkuat imannya)." Di salah satu pidatonya, Amirul Mukminin as melontarkan kritikan pedas terhadap pandangan semacam ini dan beliau mengumumkan komitmennya terhadap sunah Rasulullah saw. Dalam sebuah peristiwa, ketika ingin menyelesaikan satu persoalan, masyarakat dihadapkan pada beragam pendapat yang berselisih. Lantas mereka datang pada seorang hakim dan hakim pun membenarkan semua pendapat itu, beliau menentang pendapat tersebut seraya menegaskan, "Hal ini terjadi padahal Tuhan mereka Esa, Nabi mereka satu dan kitab suci mereka juga satu. Apakah Allah SWT telah berfirman kepada mereka untuk menempuh jalan-jalan yang berselisih sehingga mereka layak dianggap sebagai orang-orang yang memanuti tuntunan-Nya? Atau malah sebaliknya, Allah SWT melarang mereka untuk berpecah-belah, tetapi mereka malah menentang-Nya? Mungkin ada kemungkinan lain, yaitu apa yang diturunkan Allah SWT adalah kurang, dan Ia meminta pertolongan dari mereka untuk menyempurnakannya? Atau mereka adalah sekutu Allah SWT sehingga merekapun berhak untuk berpendapat dan Ia harus menerima jalan yang mereka tempuh? Atau sebetulnya agama yang Allah SWT turunkan adalah benar, hanya saja Rasulullah saw telah salah dalam meyampaikannya? Padahal, Allah SWT berfirman, 'Kami tidak meninggalkan apapun dalam al-Kitab (kecuali telah Kami jelaskan)."Di dalam pidatonya yang lain, Amirul Mukminin as membongkar kesalahan-kesalahan mereka dengan penuh heran seraya berkata, "… mereka senang memperhatikan syubhah, padahal mereka sendiri berjalan di atas syahwah. Ma'ruf di sisi mereka adalah hal yang mereka kenal dan senangi, adapun munkar menurut mereka adalah hal yang mereka enggani.
Di tengah problema, mereka hanya bersandar pada diri sendiri, dan dalam memutuskan hal-hal penting, mereka hanya mengandalkan pendapat pribadi. Seakan-akan masing-masing mereka adalah imam bagi diri mereka sendiri. Maka, ketika mereka mengeluarkan sebuah hukum, seolah-olah mereka telah berpegang teguh pada tali yang paling kuat dan seakan-akan mereka telah menggunakan sarana yang paling hebat."
Yang menarik lagi adalah kepercayaan khalifah kedua dan khalifah ketiga, bahwa di dalam beberapa hal, mereka berhak untuk membuat syariat tertentu sambil meninggalkan sunah, seperti perilaku Utsman yang bertentangan dengan sunah Nabi saw, bahkan dengan sunah khalifah-khalifah sebelumnya. Ia mengerjakan shalat dengan sempurna, tanpa qashar di Mina sementara Nabi saw, Abu Bakar dan Umar mengqasharnya, dan muslimin secara bertahap meyakini tindakan khalifah-khalifah tadi sebagai sunah dan syariat Islam yang kita dilarang keluar dari jalur tersebut
3. Fiqh dan ijtihad di masa Utsman
Sepeninggal Rasul, banyak menghadapi kejadian-kejadian baru. Maka beliau melakukan istinbath tehadap kejadian-kejadian itu. Bila terjadi suatu kejadian, di saat itulah melakukan ijtihad. Beliau berpegang dalam urusan tersebut kepada :
a.Al-Quran
b.Sunnah Rasul. Beliau bermufakat mengikuti sunnah yang mereka percaya kepada perawinya.
Utsman bila menghgadapi kejadian baru, memperhatikan al-Al-Qur’an. Jika terdapat didalamnya, beliau mentapkan hukum dengannya. Jika tidak terdapat dalam al-Al-Qur’an, beliau memperhatikan hadits. Jika tidak terdapat dalam hadits beliau lalu bertanya pada sahabat. Maka jika ada seseorang sahabat yang memberitahu tentang putusan Nabi beliau pun berpegang pada nya. Dan kalau dengan cara ini ia belum mendapatkan sunnah, maka ia panggil pemuka-pemuka sahabat untuk memusyawarahkan masalahnya. Dan kalau mereka bisa mencapai konsensus terhadap hukumnya, maka ia meneruskan dengan hukum yang telah mencapai konsensus. Beliau sangat berhati-hati menerima riwayat diantaranya ada yang menerima riwayat sesudah perawi disumpahkan dan ada yang meminta saksi. Adapun cara ijtihad yang beliau laksanakan itu ialah:
a.Mengeluarkan hukum dengan dasar
b.Menetapkan hukum dengan ijma’
4. Contoh ijtihad Utsman
Perbedaan pendapat terjadi tentang masalah unta yang berkeliaran dan tidak iketahui pemiliknya, apakah boleh diamankan seperti barang temuan lainnta, atau tidak. Ikhtilaf itu terjadi karena ada hadist yang menyebutkan bahwa unta-unta itu harus dibiarkan hingga ditemukan sendiri. Ketika kondisi pemerintahan mulai goncang dan keamanan mulai tidak terjamin, Ustman berpendapat bahwa unta-unta sebaiknya diamankan, tetapi Rasulullah melarang unuk mengamankan, kata Ustman, karena tidak mungkin ada yang mencurinya. Namun sekarang dakam suasana melemahnya gairah keagamaan ini unta-unta harus diamankan untuk kemaslahatan, kalau tidak ia akan dicuri orang.
Sikap Ustman ini bertentangan dengan kebijksanaan Umar yang mengamalkan hadist Nabi tadi. Disini tampaknya Ustman menerapkan illat. Umar melaksanakan nash dari hadist karena adanya illat yaitu “suasana aman”. Ketika illat itu tidak ada maka nash tidak cukup syaratnya untuk diterapkan. Jika diamalkan maka pengamalan nash itu tidak akan mewujudkan kemaslahatan yang merupakan tujuan utama nash tadi.

Masa Ali Bin Abi Thalib
1. Biografinya
Beliau bernama Ali bin Abi Thalib sendiri adalah Abdu Manaf- bin Abdul Muthalib- ia bernama Syaibah-Bin Hasyim- beliau bernama Amr bin Abdul Manaf- beliau bernama al-Mugirah-bin Qushaiy-nama aslinya adalah Zaid-bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah.
Ali bin Abi Thalib dipanggil Abdul Husein dan Abu Turab oleh Rasulullah. Ali adalah salah satu dari sepuluh orang yang mendapat jaminan dari Rasulullah untuk masuk surga. Beliau adalah saudara Rasulullah pada saat terjadi mu’akhat ( jalinan ukhwah di Madinah). Beliau adalah menantu Rasulullah karena Ali menikahi putrinya Fathimah, Ali adalah satu diantara orang-orang yang masuk Islam beliauwal-awal lahirnya Islam. Beliau adalah salah seorang ulama Rabbaniyyin, seorang pejuang yang gagah berani, seorang zuhud yang terkenal, seorang orator ulung. Beliau adalah salah seorang pengumpul al-Al-Qur’an dan beliau bacakan kepada Rasulullah. Al Al-Qur’an itu dibaca oleh Abu Aswad ad-Duali, Abu Abdur Rahman as- Sulami dan Abdur Rahman bin Abi Laila. Beliau adalah khalifah pertama dari Bani Hasyim. Ali dikenal dengan Abu as-Sabthain, yakni anak dari al-Hasan dan al-Husein.
Periode kekhalifahan Ali r.a selama empat tahun dan sekitar sembilan bulan telah ditandai dengan perang sipil. Pemerintahannya dicirikan dengan serangkaian pemberontakan untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam. Ia dipilih sebagai khalifah dalam periode sejarah Islam yang sangat kritis.Kesyahidan Utsman r.a merupakan satu peristiwa luar biasa yang telah diramalkan Rasulullah sebelumnya. Ali telah berada dalam situasi yang sangat sulit. Pada satu sisi para pembunuh dan pemberontak menciptakan kekacauan tanpa akhir untuknya, dan di sisi lain bani Umayyah (kel. Utsman r.a) melarikan diri ke Syria dan menghasut Muawiyah untuk mengokohkan tuntutannya, menuntut balas para pembunuh Utsman r.a , namun Ali r.a menghadapi semua kesulitan tersebut dengan keteguhan hati yang luar biasa serta menunjukkan karakter yang patut dicontoh. Ia tidak pernah memiliki dukungan penuh bahkan dari sahabat-sahabatnya di Kufah, tetapi tetap teguh dalam posisinya.
2. Contoh-Contoh Ijtihad Ali bin Abi Thalib
Para sahabat Khulafaurrasyidin dalam mencari istinbath hukum pasti merujuk pada Al-Al-Qur’an dan Hadits. Akan tetapi permasalahan terjadi ketika dalam dua sumber hukum tersebut tidak ada rujukan, sehingga para Khalifah harus menggunakan penalaran untuk memecahkan masalah yang sedang terjadi. Begitu juga pada masa periode Ali bin Abi Thalib r.a, diantara masalah-masalah itu diantaranya adalah:
a.Tentang Wanita yang Ditinggal mati suaminya
Para fuqaha berbeda pendapat tentang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya sebelum melakukan hubungan suami istri, padahal belum ditentukan kadar mas kawinnya juga. Menurut Ibu Mas’ud, bahwa wanita itu behak mengambil mas kawin seperti biasa dari harta peninggalan harta suaminya seperti yang pernah terjadi pada Marwa’ binti Wasyik al Islamiyah di zaman Rasulullah SAW.
Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa, ketentuan seperti itu merugikan satu pihak. Oleh karenanya, menurut Ali, wanita itu tidak berhak mengambil harta peninggalan suaminya yang belum terjadi hubungan suami istri. “Kami tidak akan meninggalkan al-Al-Qur’an hanya karena pernyataan orang”, atau Ali. Dari sini tampak bahwa Ali telah sampai pada penggunaan qiyas, sebab dalam al-Al-Qur’an tidak ada ketentuan dalam masalah ini, yang ada adalah wanita yang ditalak suaminya yang belum melakukan hubungan suami istri, dan Ali mengqiyaskan wanita yang ditinggal mati oleh suaminya sebelum melakukan hubungan tadi dengan wanita yang ditalak oleh suaminya.
b.Pembagian Warisan bagi seorang Waria
Sa’id bin Mansur dalam sunannya mengatakan: Hasyim mengatakan kepada kami, seorang syiekh mengatakan kepada kami dari Fazarah, beliau berkata, saya mendengar Ali berkata, “Mahasuci Allah yang telah menjadikan musuh kita menanyakan kepada kita tentang masalah agamanya. Sesungguhnya Muawiyah telah menulis surat kepada saya dan bertanya tentang pembagian warisan bagi seorang waria. Lalu saya tulis jawaban kepadanya agar beliau memberi warisan sesuai dengan aliran air seninya(artinya apabila air seninya keluar dari kemaluan wanita maka beliau mendapat warisan perempuan dan sebaliknya).
3. Kesulitan yang dihadapi Khalifah Ali bin Abi thalib
Ketika Ali menjalankan tugas sebagai khalifah, beliau dihadapkan pada sejuta problema dan kesulitan. Semua kesulitan yang ditambah juga dengan kondisi politik yang labil dan kacau balau setelah terjadi pembunuhan Utsman, menggambarkan masa depan yang hitam dan gelap gulita. Berikut ini sekilas tentang kesulitan beliau disambung dengan solusi yang ditawarkan.
Sebelumnya perlu ditekankan bahwa semua kesulitan ini dihadapkan pada seorang seperti beliau yang sangat komitmen terhadap prinsip utama maupun cabang. Di masa sebelum itu, setiap khalifah membuka jalan secara temporal hanya dengan tujuan memperluas kawasan dan menaklukkan negara luar. Tapi, sekarang jelas bahwa kebanyakan jalan yang mereka tempuh adalah keliru sebagaimana terbukti oleh zaman. Contohnya, Umar menyusun buku (diwan) negara berasaskan prinsip etnis. Dan setelah lima belas tahun berjalan, dampak-dampak negatifnya mulai dirasakan secara sosial maupun politik.
Diantara kesulitan yang dihadapi oleh Amirul Mukminin ini adalah ketika Ali terfokus dalam menjaga keadilan dan kestabilan ekonomi. Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa Umar menyusun diwan atas dasar masa lalu Islam seseorang dan juga atas dasar etnis. Sahabat yang lebih dahulu masuk Islam mendapatkan saham yang lebih besar. Hal yang sama juga berlaku semasa Utsman menjabat sebagai khalifah. Utsman memulai pemberian dan habeliauhnya secara besar-besaran, hal ini menambah kesenjangan sosial antara orang kaya dan miskin. Kekayaan ini berkaitan dengan khumus (seperlima yang wajib dikeluarkan dari rampasan perang, pajak negara (kharâj), dan jizyah yang wajib dikeluarkan dari tanah yang dimenangkan oleh kaum muslimin. Ketika Amirul Mukminin terpilih sebagai khalifah, beliau membagi kekayaan itu secara merata. Dan beliau berdalil bahwa Rasulullah saw juga bertindak demikian. Dan Ali memberikan penyelesaian sebagai berikut:
Amirul Mukminin as berkata, "Selama masih ada hukum di kitab Allah SWT, maka di situ bukanlah tempat bermusyawarah. Tentu, apabila ada sesuatu yang tidak ada di Al-Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw, maka aku pasti akan bermusyawarah dengan kalian. Adapun berkenaan dengan pembagian sama rata, kita sama-sama menyaksikan Rasulullah saw melakukan demikian, sebagaimana Al-Al-Qur’an pun memerintahkan hal tersebut." Di sana Zubair menggerutu, "Bukankah ini adalah upah kami? Kami telah melangkah di jalan ini dan berkiprah untuknya sampai akhirnya Utsman terbunuh. Tapi hari ini beliau mengutamakan atas kita orang-orang yang sebelumnya kita lebih utama dari mereka.
Ibn Abil Hadid melanjutkan penjelasannya, "Terbiasanya masyarakat pada saat itu dengan cara yang diberlakukan Umar merupakan faktor utama perlawanan sahabat terhadap Amirul Mukminin as, padahal Abu Bakar sendiri menjalankan cara seperti yang telah diberlakukan oleh Rasulullah saw dan tak seorang pun yang menentangnya. Amirul Mukminin as berkata, 'Apakah sunah Rasulullah saw lebih layak untuk diikuti atau sunah Umar?
Perlawanan terhadap cara ini semakin serius, sampai akhirnya sebagian dari sahabat dekat Amirul Mukminin as mendatangi beliau dan mohon agar elit Arab dan Quraisy dilebihkan daripada mawali dan ''Ajam. Beliau tidak menerima permohonan mereka dan berkata, "Apakah kalian menyarankan padaku untuk meraih kemenangan dengan kezaliman?
Dari sini kita mengetahui bahwa pembagian yang sama rata tersebut telah membuat senang para rakyat, karena khalifah Ali bin Abi Thalib dapat berlaku adil.

Sebab-sebab Terjadinya Perbedaan Pendapat Dikalangan Khulafaur Rasyidun

Menurut para ahli perbedaan pendapat dikalangan Khulafaur Rasyidun disebabkan oleh beberapa faktof, diantaranya:
a.Perbedaan dalam memahami nash al-Qur’an dan Hadits, yaitu pada ayat-ayat atau dalil-dalil yang bersifat Dzanni atau tidak adanya batasan yang jelas;
b.Munculnya dua persoalan yang merujuk pada dua nash yang saling berlawanan;
c.Perbedaan kaidah dan metode ijtihad;
d.Kebebasan dan kesungguhan para Sahabat;
e.Perbedaan mereka dalam menerima hadits dari Rosulullah SAW.

DOWNLOAD lebih lengkap


0 komentar:

Poskan Komentar

 
Mohon Selalu Kritik & Sarannya Untuk Perubahan Yang Lebih Baik

Artikel Populer

Statistik Pengunjung

Profil

Foto Saya
Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia
seorang fotografer yang selalu ingin menceritakan fenomena sosial dan keindahan dengan bingkai visual
 

© 2013 Muhammad Syarifuddin