Tasyri’ Pada Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in

Kamis, 21 Mei 2009
Keadaan Tasyri’ Pada Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in
Setelah masa khalifah yang keempat berakhir fase selanjutnya adalah zaman tabi’in yang pemerintahannya dipimpin Bani Umayyah. Pada fase ini merupakan zaman di mana Islam menempati kejayaannya, yang banyak memberikan kemajuan-kemajuan yang pesat, fase yang bermula abad ke-2 H dan berakhir abad ke-4 H, yang kurang lebih berjalan 200 tahun, tepatnya pada masa pemerintahan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (tahun 41 H).
Fitnah besar yang dihadapi umat islam pada akhir pemerintahan khalifah Ali adalah Tahkim yaitu perdamaian antara Ali sebagai khalifah dan Mu’awiyah bin abi sufyan sebagai gubernur Damaskus. Pendukung Ali yang tidak menyetujui tahkim membelot dan tidak lagi mendukung Ali, selanjutnya mereka disebut kelompok Khawarij. kelompok ini disebut-sebut yang merencanakan pembunuhan terhadap Ali dan Mu’awiyah, namun hanya Ali yang berhasil dibunuh. Mu’awiyah mengambil alih kepemimpinan umat Islam. ketika itu umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok yaitu penentang Ali dan Mu’awiyah (Khawarij), pengikut setia Ali (Syiah) dan Jumhur Ulama.
Saat itu pandangan pemerintah kepada ilmu pengetahuan sungguh antusias terbukti dengan banyaknya pembukuan-pembukuan ilmu pengetahuan yang terdiri diantaranya tentang hukum-hukum Islam, As-sunnah, Tafsir dll. Karena banyaknya para sahabat-sahabat yang sudah wafat, maka sebagian sahabat yang masih hidup adalah sebagai guru dari orang-orang yang meminta fatwa serta belajar kepadanya, mereka mempunyai hadits-hadits yang diriwayatkan dalam jumlah yang besar, sebagian diantaranya; Musnad Abu Hurairah 313 halaman dari Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Abdullah bin Umar 156 halaman, Musnad Abu Bakar tertulis 84 halaman, Musnad Umar yang tertulis 41 halaman serta Musnad Ali dalam 85 halaman.
Sumber hukum Islam yang dulunya bermula dipandang hanya dalam tekstual dan bersifat kaku akan tetapi seiring berjalannya fase-fase keemasan lahir para cendikiawan-cendikiawan muslim yang mampu memberikan penerangan
Hukum yang tak hanya memandang secara teks saja akan tetapi juga konteks, yang berdasarkan dhuruf wal hal yang seiring berkembang dalam dunia Islam.
Selain terpandang dalam perkembangan pembukuan-pembukuan ilmu pengetahuannya periode ini merupakan periode sejarah di mana para Jumhur bersepakat untuk bersatu atau yang dikenal sebagai Amul Jamaah (tahun persatuan Islam) akan tetapi kondisi sosial politik juga masih memanas yang berawal pada benih-benih perselisihan politik yang mengakibatkan perselisihan dan tipudaya terhadap pemerintahan. Kelompok pembrontak ini terbagi menjadi dua kelompok diantaranya:
a. Golongan Khawarij yang sebagian gerakan politiknya mengancam untuk membunuh raja yang zhalim dan keluarganya
b. Golongan Syi’ah berpendapat bahwa pemerintahan merupakan hak Ali dan keluarganya, jadi setiap orang yang merampas hak itu maka ia adalah zhalim dan pemerintahannya tidak sah.

Faktor Penyebab Berkembangnya Tasyri’
Pada fase ini perkembangan hukum Islam ditandai dengan munculnya aliran-aliran politik yang secara implisit mendorong terbentuknya aliran hukum. Walaupun panasnya suasana politik yang dipengaruhi oleh golongan-golongan pemberontak yakni golongan Khawarij dan Syi’ah mewarnai pada periode ini, akan tetapi fase-fase ini disebut juga masa keemasan Islam yang mana tumbuh banyak perkembangan-perkembangan keilmuan, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya:
1.Bidang politik
Pada fase ini perkembangan hukum Islam ditandai dengan munculnya aliran-aliran politik yang secara implisit mendorong terbentuknya aliran hukum. Pada bidang ini timbul tiga golongan politik, yaitu: Khawarij, Syiah dan Jumhur Ulama. Masing-masing kelompok tersebut berpegang kepada prinsip mereka sendiri.
2.Perluasan Wilayah
Sebagimana yang kita ketahui perluasan wilayah Islam sudah berjalan pada periode khalifah (Sahabat) yang kemudian berlanjut pada periode Tabiin mengalami perluasan wilayah yang sangat pesat dengan demikian telah banyak daerah-daerah yang telah ditaklukan oleh Islam, sehubungan dengan itu semangat dari para ulama untuk mengembalikan segala sesuatunya terhadap sumber-sumber hukum Islam, yang seiring banyak terjadi perkembangan kebutuhan hukum untuk terciptanya kemaslahatan bersama.
3.Perbedaan Penggunaan Ra’yu
Pada periode ini para ulama dalam mengemukakan pemikirannya dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu; aliran Hadits yaitu para ulama yang dominan menggunakan riwayat dan sangat “hati-hati” dalam penggunaan ra’yu. Dan kedua adalah ulama aliran ra’yu yang banyak dalam penggunaan pemikirannya dengan ra’yu dibandingkan dengan Hadits, dengan demikian adanya perkembangan pemikiran yang dapat mendorong perkembangan hukum Islam.
4.Fahamnya Ulama Tentang Ilmu Pengetahuan
Selain telah dibukukannya sumber-sumber hukum Islam yaitu Al-Quran dan Al-hadits sebagi pedoman para ulama dalam penetapan hukum, para ulama pun sudah faham betul dengan keadaan yang terjadi serta para ulama-ulama yang dahulu dalam menghadapi kesulitan-kesulitan suatu peristiwa dapat terpecahkan sehingga keputusan-keputasan itu dapat dijadikan yurispudensi pada masa hakim saat ini.
5.Lahirnya Para Cendikiawan-Cendikiawan Muslim
Dengan lahirnya para cendikiawan-cendikiawan muslim seperti Abi Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi’I dan juga para sahabat-sahabatnya dengan pemikiran-pemikiran yang dimiliki telah berperan dalam pemprosesan suatu hukum yang berkembang dalam masyarakat.
6.Kembalinya Penetapan Hukum Pada Ahlinya
Berkembangnya keadaan yang terjadi di sekitar membuat banyak permaslahan-permasalahan baru yang terjadi, dengan demikian umat Islam baik itu para pemimpin negara maupun hakim-hakim pengadilan mengembalikan permasalahan-permasalahan terjadi pada para mufti-mufti dan tokoh-tokoh ahli perundang-undangan.

Sumber-sumber Tasyri’ Pada Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in
Sebagaimana pada periode Sahabat-sahabat besar, sumber perundang-undangannya juga tidak jauh berbeda, sumber-sumber perundang-undangan pada periode ini ada empat macam, yakni:
a. Al-Qur’an
b. As-Sunnah
c. Al-Ijma’
d. Al-Qiyas
Apabila terjadi suatu peristiwa para ahli fatwa merujuk pada kitabulla. Mereka memperhatikan nash yang menunjuk kepada hukum yang dimaksud, dan memahami nash itu. Pada periode ini ada dua hal yang bisa mempengaruhi segi pemeliharaannya, yakni; penelitiannya dan penjagaannya dari segala macam perubahan. Dari segolongan umat Islam ada juga yng bersungguh-sungguh menghafal al-Qur’an dan memperbaiki system atau bentuk penulisannya serta pemberian baris dan harokat.
Jika yang mereka maksud tidak terdapat dalam kitabullah mereka baru beralih memperhatikan Sunnah Rasul. Karena jumhur beranggapan bahwa as-Sunnah itu menyempurnakan pembinaan hukum yang berfungsi untuk menerangkan al-qur’an. Dan dikalangan jumhur tidak ada orang yang menentang pendapat ini. Orang yang pertama kali memperhatikan kekurangan ini adalah Imam bin Abdul aziz pada awal abad ke II H. Ia menulis pada pekerjanya di Madinah Abu Bakar Bin muhammad bin Amr bin Hazm:
“Lihatlah hadits-hadits Rasulullah s.a.w. atau sunnah beliau yang ada, kemudian tulislah karena sesungguhnya saya takut terhapusnya ilmu dan perginya (meninggalnya) ulama’. (Diriwayatkan oleh Malik dalam Mwatha’ dan riwayat Muhammad bi hasan)
Jika mereka tidak mendapatkan pula dalam nash-nash hadits barulah mereka berijtihad dengan mempergunakan Qiyas memperhatikan ruh (jiwa) syari’at dan memperhatikan kemashlahatan umat. Apabila ijtihad para sahabat itu dilakukan bersama-sama dengan mengambil keputusan bersama, maka itu disebut dengan Ijma’ sahabat.

Penerapan Tasyri’ Pada Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in
Pada masa ini, wewenang untuk menetapkan tasyri’ dipegang oleh generasi tabi’in yang selalu menyertai para sahabat yang mempunyai keahlian dalam bidang fatwa dan tasyri’ di berbagai kota besar. Dari para sahabat yang ahli itulah para tabi’in mempelajari Al-qur’an dan menerima riwayat hadits serta bermacam-macam fatwa. Generasi ini memakai khittah yang telah dilalui oleh para sahabat yaitu kembali kepada dasar-dasar tasyri’ dan memperhatikan benar-benar prinsip-prinsip yang umum dalam mentasyri’kan hukum. Karena itu mereka akan memberikan fatwa terhadap kejadian-kejadian yang telah terjadi saja dan karena itulah perselisihan paham diantara mereka belum meluas.
Pada masa ini pula, mulai timbul pertukaran pikiran dan perselisihan paham yang meluas yag mengakibatkan timbulnya khittah-khittah baru dalam mentasyri’kan hukum bagi pemuka-pemuka tasyri’ tersebut dan dalam hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam memahami ayat-ayat hukum, cara berijtihad yang berbeda, perbedaan pandangan tentang maslahah, tingkat kecerdasan pikiran, tempat tinggal para pemuka tasyri’ yang berlainan daerah(tidak satu lingkungan), dan cara menggunakan ra’yu yang berbeda. Selain itu, perkembangan zaman dan perbedaan struktur masyarakat turut mempengaruhi timbulnya khittah-khittah baru dikalangan pemuka-pemuka tasyri’ tersebut. Telah dijelaskan di atas bahwa telah terjadi perselisihan paham dalam menetapkan suatu hukum, selain beberapa penyebab perbedaan yang telah disebutkan diatas, terjadinya perselisihan paham sahabat itu karena perbedaan paham dan perbedaan nash yang sampai kepada mereka Karena pengetahuan mereka tantang hadits yang tidak sama. Penyebab –penyebab perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan dalam hal furu’(cabang) dan dalam hal ushul mereka tetap sepakat.
Akan tetapi, pada pertengahan abad kedua hijriah kekuasaan tasyri’ dikendalikan oleh para mujtahidin ( abu hanifa dan sahabat-sahabatnya, Malik dan sahabat-sahabatnya, Asy Syafi’i dan sahabat-sahabatnya, Ahmad dan sahabat-sahabatnya, dsb). Pada abad ini perbedaan yang awalnya tidak meluas menjadi meluas kepada ushul atau dasar-dasar tasyri’ dan hal ini menyebabkan pemuka-pemuka tasyri’ pecah dalam beberapa golongan yang masing-masing mempunyai dasar,aliran,hukum furu’ yang berbeda.

Penyebab-penyebab atau dasar-dasar perbedaan tasyri’ di kalangan imam mujtahidin adalah:
1.Dasar-dasar tasyri’.
Perbedaan mujtahidin dalam dasar-dasar tasyri’ diantaranya disebabkan oleh perbedaan jalan menerima hadits dan dasar-dasar yang dipergunakan dalam mentarjihkan hadits, serta dasar-dasar lainnya. Seperti halnya para mujtahidin di irak, seperti imam abu hanifah dan sahabat-sahabatnya yang hanya berhujjah dengan sunnah mutawatirah dan masyhurah saja. Dan mentarjihkan hadits –hadits yang diriwayatkan oleh fuqoha-fuqoha yang mereka percaya. Sedangkan para mujtahidin madinah seperti imam malik dan ashabnya mentarjihkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ulama-ulama di madinah dan meninggalkan hadits-hadits ahad yang menyalahi amalan-amalan ulama madinah.
Selain mujtahidin yang telah dijelaskan di atas, imam-imam yang lain berhujjah dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang adil,dapat dipercaya, baik dari kalangan fuqaha maupun bukan , baik yang amalannya sesuai dengan ulama madinah maupun tidak. Perbedaan tentang jalan menerima hadits ini menimbulkan perbedaan pendirian yaitu, sebagian ulama menerima suatu hadits dan sebagian yang lain menolak hadits tersebut. Dan sebagian ulama memandang kuat atau rajih suatu hadits yang dipandang marjuh atau tidak kuat oleh ulama yang lain.
Seperti halnya dalam perbedaan pendapat para imam mujtahid dalam penerimaan hadits, dalam bidang fatwa pun mereka juga mengalami perbedaan mengenai fatwa-fatwa hasil ijtihad para sahabat. Seperti as syafi’I yang berpandangan bahwa fatwa sahabat adalah fatwa yang merupakan hasil ijtihad orang-orang yang tidak ma’shum, oleh sebab itu terkadang beliau mengambil salah satu dari fatwa sahabat dan terkadang memberi fatwa yang tidak sama dengan fatwa sahabat. Lain halnya dengan Imam malik yang mengambil makna yang beliau pandang kuat dari fatwa-fatwa tersebut, beliau tidak mengambil fatwa dari seorang sahabat saja dan beliau juga tidak menyalahkan fatwa-fatwa dari sahabat itu.
Selain dalam bidang hadits dan fatwa, juga terdapat perbedaan penilaian dan pandangan dalam hal qiyas. Jumhur ulama menerima qiyas sebagai dasar tasyri’sesudah Al-Qur’an, hadits, dan Ijma’. Walaupun mereka sependapat bahwa qiyas adalah salah satu dasar tasyri’ mereka tetap berselisih mengenai penetapan illatnya. Sedangkan mujtahidin dari golongan Syi’ah dan dhahiriyah menolak qiyas.
2. Kecenderungan (Nas’ah) beristinbath.
Dasar –dasar perbedaan paham mujtahidin yang kedua adalah adanya kecenderungan dalam beristinbath. Di kalangan para imam mujtahid terdapat dua kecenderungan dalam berijtihad, yaitu:
Pertama ,kecenderungan ulama hijaz.
Kedua,kecenderungan ulama irak.
Ulama-ulama hijaz dalam beberapa hal terbatas berpegang terhadap ra’yu, sedangkan ulama-ulama irak tidak membatasi dan meluaskan bidang pemakaiannya. Dan hal ini bukan berarti bahwa ulama hijaz tidak memakai qiyas dan demilkian juga ulama ra’yu bukan berarti mereka tidak memakai hadits. Selain hal-hal tersebut, beberapa hal yang menyebabkan timbulnya dua kecenderungan adalah hadits dan fatwa-fatwa sahabat tidak banyak tersebar di irak tidak seperti halnya di hijaz. Ulama-ulama hijaz bersandar kepada nash-nash dan mereka memperoleh atsar-atsar yang cukup banyak untuk dijadikan pegangan mereka.
Sedangkan ulama irak tidak memperoleh atsar-atsar itu, oleh karena itu mereka berpegang kepada akal lalu berijtihad dengan, memahami illat tasyri’ dari pengertian nash-nash itu, Para fuqaha kelompok ini berpendapat bahwa hukum-hukum syara’ itu ma’qul makna (dapat dipikirkan maknanya) dan pada waktu itu sebagian penduduknya banyak membuat hadits-hadits palsu dan juga betapa nekadnya kaum syi’ah membuat hadits-hadits palsu, sedangkan hal tersebut tidak di saksikan oleh ulama-ulama hijaz oleh karena itu para ulama irak berlaku keras dalam menetapkan persyaratan dalam penerimaan suatu hadits mereka hanya menerima hadits yang masyhur dikalangan fuqaha-fuqaha saja. Karena hal-hal inilah ulama-ulama irak harus membahas, menelaah, meneliti, meninjau, dan membandingkan dengan menggunakan akal dan penyelidikan. Sedangkan ulama hijaz jarang menghadapi kejadian-kejadian yang baru sehingga mereka terbiasa memahami nash secara lahirnya saja, tidak membahas illat dan maksud tasyri’nya.
3. Prinsip Bahasa.
Dari segi bahasa terdapat perselisihan diantara mereka(mujtahid) tentang prinsip-prinsip bahasa. Diantara mereka ada yang berpendapat bahawa suatu nash itu menetapkan suatu hukum pada mantuqnya (yang jelas di tunjuk oleh kata-kata itu) dan menimbulkan kontra hukum pada mahfumnya ( pengertian yang diambil dari keseluruhan susunan kalimat,bukan yang jelas ditunjukkan oleh kata-katanya). Dan diantara mereka ada yang tidak berpendapat demikian, yaitu mereka yang berpendapat bahwa ‘am (kata-kata yang artinya umum) yang belum di takhsiskan (dibatasi dengan suatu ketentuan ) itu, memfaedahkan yakin didalam mencakup afrad-afradnya (bagian-bagian yang masuk didalam pengertian yang umum itu). sedangkan sebagian yang lain adapula yang berpendapat bahwa ‘am yang belum ditakhsiskan tidak memberi faedah ‘am dalam mencakup semua afrad-afradnya.
Diantara mereka ada pula yang berpendapat bahwa muthlaq dipautkan dengan muqayyad, hanyalah apabila bersatu hukumnya dan sebabnya. Adapula yang berpendapat bahwa amr (kata perintah) menunjukkan kepada wajib bukan menunjuk kepada sunnah atau yang lainnya, kecuali ada qarinah( dalil lain yang menunjukkannya). Sedang yang lainnya berpendapat bahwa amr itu hanya menunjuk kepada suruhan saja dan bukan kepada yang lainnya, qarinahlah yang menunjukkan kepada yang wajib, sunnah, atau mubah.

Biografi beberapa Tabi’in

a. Penduduk Madinah
1.Sa’id bin musayyab
Sa’id bin musayyab mempunyai nama lengkap Abu Muhammad sa’id bin al-Musayyab bin hasan al-Quraisy al-Makhzumi al-Madini. Beliau dilahirkan dua tahin sesudah kekhalifahan Umar, ketika ia dewasa ia tekun mempelajari pemikiran dan perintah Umar. Beliau adalah orang yang paling hafal terhadap keputusan atau ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum Umar hingga beliau disebut perawi umar dan dia juga hafal Musnad dari Abu Hurairah, karena ia menikahi putrinya abu hurairah, dia juga meriwayatkan hadits dari Utsman, Ali, Sa’ad bin waqas, dan sahabat terkemuka lainnya.
Beliau termasuk pembesar tabi’in dalam bidang fikih, agama, ibadah, dan lain dan sebagainya hingga dia di juluki Faqihul Fuqaha (ahli fikih di kalangan ulam fikih).
Beliau juga di sebut pemberani karena keberaniannya berfatwa dengan keluasan ilmu dan hafalannya. Abdul malik bin marwan pernah menetapkan beliau untuk membaiat putra mahkota pada waktu itu, yaitu al-walid dan sulaiman akan tetapi beliau tidak bersedia dan berkata: “Rasululluah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang tenteng baiat, lalu Abdul malik menyuruh agar dia di pecuti dan diarak dengan memutari pasar-pasar madinah kemudian beliau disodorkan pedagang akan tetapi beliau tetap dengan pendiriannya dalem ketidakmauannya membaiat. Beliau adalah orang yang paling mengetahui ta’bir mimpi dan paling mengetahui nasab silsilah Quraisy, ia juga memberikan fatwa padahal pada waktu itu para sahabat masih banyak. Beliau mengetahui berita-berita tentang kaum jahiliyah dan Islam, kesungguhannya dalam ijtihad, ibadah, amar ma’ruf (perintah berbuat baik), kemuliaannya dalam pandangan para pemimpin dan pembelaannya terhadap orang-orang yang tertindas. Beliau wafat pada tahun 94 Hijriah, pada masa khalifah al-Walid. Pada tahun ini disebut juga tahun fuqaha karena pada tahun ini banyak para ahli fiqih yang wafat.
2.Nafi’ Maula Abdullah bin Umar bin Khattab
Nafi’ Maula Abdullah bin Umar bun Khattab termasuk Ahli Fiqh dan Hadits terkemuka di Madinah, Umar mengutusnya ke Mesir untuk mengajarkan Sunnah pada penduduknya.. Nafi mendapatkan kehormatan yang besar dan kedudukan yang tinggi disisi Ibnu Umar. Ia melayani Abdullah bin Umar selama 30 tahun. Nafi’ berasal dari Dailami dan meninggal pada tahun 117 H.

b. Penduduk Kuffah
1. Al-Qamah bin Qais An-Nakha’i
Nama lengkap beliau adalah Al-Qamah bin Qais bin Malik An-Nakha’I Al-Kufi. Ia lahir pada masa hidup Rasulullah s.a.w. dan banyak meriwayatkan hadits yang bersumber dari Umar, Utsman, Ali dan Ibnu Mas’ud karenanya beliau disebut Al-Qamah Ar-Rawi lantaran banyak hadits yang diriwayatkan darinya.
Adz-Dzahabi berkata: Al-qamah adalah adalah fiqh, pemimpin, pintar, bagus suaranya dalam membaca al-Qur’an, tetap dalam sesuatu yang beralih, teman kebaikan dan war, menyerupai Ibnu Mas’ud dalam petunjuk, keluasan ilmu dan keutamaannya. Beliau wafat pada tahun 61 H namun ada juga ynag mengatakan pada tahun 62 H.
2. Ibrahim an-Nakah’i
Nama lengkap beliau adalah Ibrahim bin Yazid bin Qais An-Nakh’i al-kufi al-Faqih. Seorang ahli fiqh Irak, ia meriwayatkan hadits dari Al-Qamah, Masruq, Asward dan lain-lainnya. Beliau adalah Guru Hamid bi abi sulaiman, gurunya Abu Hanifah. Diriwayatkan dari Al-A’masy, ia berkata: Ibrahim An-Nakha’i adalah adalah tukang tukar hadits. Dari madzhab Ibrahim bercabang madzhab Hanafi. Beliau wafat di kediaman Al-Hajaj bin Yusuf pada tahun 96 H dalam usia 49 tahun.

c. Penduduk Basrah
1. Hasan Al-Basri
Beliau adalah Abi Hasan Yasar Maula Zaid bin Tsabit, dilahirkan dua tahun terakhir dari pemerintah Umar. Beliau dibesarkan di Madinah dan Hafzh Al-Qur’an pada masa Khalifah Utsman, setelah besar ia terus berjuang mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Beliau salah seorang alim yang tinggi derajat, terpercaya, ahli hujah, ahli ibadah, tinggi ilmunya, fasih, tampan dan nyata, dalam kebaikan. Beliau meninggal tahun 110 H.

DOWNLOAD lebih lengkap

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Mohon Selalu Kritik & Sarannya Untuk Perubahan Yang Lebih Baik

Artikel Populer

Statistik Pengunjung

Profil

Foto Saya
Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia
seorang fotografer yang selalu ingin menceritakan fenomena sosial dan keindahan dengan bingkai visual
 

© 2013 Muhammad Syarifuddin